Total Tayangan Laman

Jumat, 02 Desember 2011

kendaraan kuno

Penggemar Mobil Kuno Mulai Berbenah

Terus meningkatnya pecinta kendaraan kuno di Indonesia membuat Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) berbenah untuk menampung inspirasi para pecinta mobil klasik.

Quote:
Mobil Kuno
Tidak tanggung-tanggung perubahan pun terjadi di setiap lini pengurus PPMKI hingga melibatkan 27 anggota, walaupun dengan memasukkan wajah-wajah lama yang telah lama berkesimbung.

"Sebuah organisasi yang baik itu harus memiliki kepengurusan yang baik pula. Karena pengurus organisasi itu merupakan batang tubuh dari sebuah organisasi. Oleh karena itu hari ini kami mengukuhkan pengurus pusat, untuk menjalin hubungan yang baik antara anggota dan pecinta kendaraan kuno lainnya," ujar Ketua Umum PPMKI Bambang Rus Effendi, di Jakarta.

Nama Solihin GP tetap dipercaya sebagai sesepuh PPMKI. Sementara anggota DPR Roy Suryo dibesut ketua eksternal.

"Secara hukum kita telah menjadi organisasi yang sah, karena kita mengacu pada IMI Indonesia. Dan kami pun telah mendapat restu dari IMI," ujar Bambang.

Bambang pun berharap agar organisasi PPMKI semakin jaya dari tahun ke tahun, dan akan tetap memiliki generasi penerus.

"Organisasi ini milik bersama bukan milik pribadi saya. Karena organisasi ini pun tercipta karena kebersamaan," tutup Bambang.

Nafsu balap mobil kuno

Large_mobil_kuno

Berita Terkait

Tak ubahnya di luar negeri, mobil kuno di Indonesia rupanya memiliki penggemar tersendiri. Uniknya, penggemar mobil ini beragam, mulai dari orang tua hingga anak muda sekalipun.

Jenis mobil yang mereka miliki juga bervariasi, mulai kelas Mercy 1970-an, Volks Wagon (VW), hingga station wagon. Tak sedikit dari para penggemar mobil klasik ini rela mengeluarkan kocek puluhan juta hingga ratusan juta untuk memodifikasi mobil jadul tersebut agar terlihat trendi.

Tampilan boleh tua, soal kecepatan mereka pun nggak mau kalah gaya. Ungkapan ini sangat pas untuk mengilustrasikan para penggemar mobil kuno saat saling beradu cepat di arena balap Sirkuit International Sentul Bogor, belum lama ini.

Lebih dari 50 mobil kuno dari berbagai merek dan tahun pembuatan mengitari arena balap sepanjang 4 kilo meter tersebut. Satu putaran berlangsung, mobil kuno ini lantas berderet di posisi yang telah ditentukan (grid).

Di sini muncul pemandangan unik. Posisi start balapan mobil kuno ini mengacu pada balapan tempo dulu dimana pembalap berada 10 meter dari kendaraan yang akan ditungganginya. Mereka tidak diperkenankan mendekati mobil sebelum lampu start menyala.

Kendaraan yang sudah berada di grid posisinya menghadap tribun dengan kondisi mesin tidak dinyalakan. Jadi ketika lampu start menyala, maka si pembalap saling adu cepat berlari menuju kendaraannya untuk masuk, kemudian duduk dan menggunakan sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin kendaraan.

Tak berselang lama, satu per satu mobil kuno saling beradu gas. Wuzzz…melesat cepat bagai kilat.

Kegiatan ini diwadahi oleh Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) dengan tajuk Indonesia Classic Race Championship (ICRC)


Mobil berusia 40 tahun
Sesuai dengan namanya, maka yang berhak mengikuti ICRC hanya kendaraan berusia 40 tahun yang dibagi enam kelas sesuai kapasitas silinder mesin, diantaranya kapasitas 1-1.300 cc 4 silinder, 1.301-2.000 cc 4 silinder, 2.001-3.000 cc 6 silinder, 3.001-5.000 cc 6 silinder, small bok max. 5.700 cc 8 silinder, serta Big Blok-Up 8 silinder.

Menurut Ketua Umum PPMKI Bambang Rus Effendi seluruh peserta yang turut dalam ajang balap mobil kuno ini harus mempertahankan keaslian kendaraan yang ditungganginya.

“Semua tidak ada yang dimodifikasi, mulai dari mesin, body standar. Makanya setiap kali berlangsung race, jarak antara satu mobil dengan mobil lainnya tidak  terlalu jauh,” ujarnya saat ditemui Bisnis.

Setiap mobil kuno tersebut diwajibkan melahap 10 putaran dalam setiap kali perlombaan. Tahun ini, ICRC telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga. Dalam satu tahun kalender penyelenggaraan balapan mobil kuno ini di gelar sebanyak enam seri.

Bambang mengaku minat peserta untuk ajang balap mobil kuno ini terus mengalami peningkatan, terlihat dari jumlah peserta pada seri yang digelar beberapa waktu lalu melebih perkiraan semula yakni 50 peserta.

“Kami mulai kegiatan ini pada 2009 dengan 10 peserta. Saat itu pihak pengelola sirkuit mengingatkan kalau kurang dari 10 peserta maka kami harus out dari kalender kegiatan Sentul. Sekarang sudah mencapai 50 peserta hingga harus di buat dua kali race,” ceritanya.

Banyaknya jumlah peserta tersebut bukannya menjadi berkah tersendiri. Bambang mengaku pihaknya harus mulai membatasi keikutsertaan ajang balap mobil kuno ini ke depan, karena keterbatasan tempat.

“Lebih dari 50 peserta terlihat crowded. Cara menyiasasti ya kita gelar dua race Sabtu-Minggu atau kita batas jumlah pesertanya,” ungkapnya.

Sejauh ini, Bambang menuturkan PPMKI memiliki lebih dari 1.200 anggota yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Bali, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, hingga Sulawesi Selatan.

Setiap tahun, pengurus daerah tersebut menggelar berbagai kegiatan mulai dari reli, touring, maupun kegiatan sosial lain guna memperingati ulang tahun PPMKI yang jatuh pada 13 November.

“Setelah itu kita kumpulkan, kita buat event tahunan sekala nasional,” jelasnya. Lewat ajang balap mobil kuno ini, setidaknya minat sebagian anggota yang gemar adu balap dapat diwadahi secara nyata.
Seribu Sepeda Motor Antik Gelar Kontes
K16-11 | Pepih Nugraha | Sabtu, 23 April 2011 | 19:42 WIB

K16-11
Beberapa motor tua antik yang mengikuti kontes yang digelar oleh Motor Antik Club Indonesia (MACI) Malang, Jawa Timur, Sabtu (23/4/2011)

TERKAIT:
MALANG, KOMPAS.com - Sebanyak seribu lebih motor tua keluaran zaman kolonial Belanda gelar kontes di Kota Malang. Mayoritas motor tua yang dihadirkan sudah tak ada surat keterangan nomor kendaraan. Karena sudah keluaran kolonial dulu.
"Peserta kontes motor tua ini lebih dari seribu sepeda motor. semuanya motor tua. Paling tua keluaran masa kolonial Belanda, yaitu keluaran Inggris tahun 1935," kata Toni Mulyanto, Humas Kontes motor tua bertema "Malang Reborn Paradise Clasic Motorcyle" itu, ditemui saat acara Kontes, Sabtu (23/4/2011).
Sepeda motor tua yang tertua dalam kontes itu adalah milik Ainul, warga Singosari, Kabupaten Malang. Mereknya Ariel. Sepada motor tersebut memang sangat antik. "Bahan untuk menghidupkan lampunya pakai karbit. Jarak dua kilo sudah diganti bahan karbit lagi," katanya.
Adapun kontes motor tua antik digelar oleh Motor Antik Club Indonesia (MACI) Malang, di Area Lembah Dieng, Kota Malang. Peserta kontes dari berbagai daerah di Indonesia. Ada juga dari Jakarta, hingga luar Jawa. "Pesertanya dari Jawa dan luar Jawa. Karena ini digelar secara nasional," katanya.
Selain acara kontes, juga ada lelang sepeda motor antik tua. "Untuk yang merek Ariel itu tidak dilelang karena dikoleksi sama pemiliknya. Ada yang mau beli Rp 100 jutan namun pemiliknya tidak mau jual," aku Toni.
Bagaimana bisa hadir ke Malang tanpa memiliki surat kendaraan? Tomo menjelaskan, dari panitia sudah ada surat keterangan jalan selama di perjalanan. "Karena motor tua itu tidak untuk dipakai sehari-hari. Tapi dikoleksi," katanya.
Polisi sudah memahami kondisi motor tua yang tidak mengantongi surat motor. "Karena keluarannya masih Indonesia belum merdeka. Semuanya adalah merek luar negeri. Ada dari Inggris, Jerman dan Belanda dan Ceko. Motor tua itu ada di Indonesia karena dipakai penjajah untuk memantau pertanian zaman kolonial dulu," terang Toni.
Motor yang ikut kontes itu keluaran tahun 1941 hingga 1960. "Bagi motor tua yang di atas itu ikut juga kontes, tetapi sudah tidak antik karena tergolong baru," katanya.
Kontes motor tua antik itu digelar, selain memperingati HUT Kota Malang ke 79, juga untuk melestarikan keberadaan motor tua. "Melestarikan motor tua itu sangat penting. Apalagi saat ini sudah merupakan barang yang langka," katanya.
Motor tua itu kata Toni, mempunyai nilai sejarah tinggi. Misalnya mengenang bahwa orang zaman dulu ternyata lebih cerdas dari zaman sekarang. Masalah kuatnya, jauh dengan produk masa dulu. Orisinilnya tak tertandingi," katanya.
Toni berharap, dari kontes tersebut masyakarat Indonesia masih terus melestarikan peninggalan zaman dulu, tidak merusaknya dan tetap menajganya. "Karena benda zaman dulu itu sangat bernilai," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar